Senin, 25 April 2011

H. Sjafaruddin,SH.MM Sudah Layak Jadi Sekda Provsu.




Medan-(Sang Merah Putih)
Medan, H.Sjafaruddin ,SH.MM yang sekarang ini sebagai Kepala Dinas Pendapatan Daerah Sumut sangat layak menjadi sekertaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (SEKDAPROVSU).
Keberhasilan H. Sjafaruddin, SH.MM selama ini memimpin dinas yang cukup baik dan juga sifat dan karakter sangat baik.
Hal ini dikatakan Ketua LSM MITRA SUARA PRANANTA BINSAR PANJAITAN kepada wartawan sang merah putih online diruangan kerjanya MInggu 24 April 2011 dijelaskan BINSAR PANJAITAN juga bahwa kredibilitasi H. Sjafaruddin,SH.MM diakui kalangan masyarakat Sumatera Utara penuh prihatin terhadap masyarakat miskin dan juga dijelaskan Binsar Panjaitan bahwa H. Sjafaruddin bila bicara soal jabatan bahwa jabatan ini merupakan sangat strategis.
Binsar mengatakan bahwa jabatan SEKDA merupakan jabatan penting seluruh kepala satuan perangkat kerja daerah (SKPD) serta SEKDA harus mampu mengayomi sekaligus membina maupun mengarahkan para kepala SKPD.
Disamping itu LSM MITRA SWARA PRANANTA
gedung.jpg
yakni Binsar Panjaitan meminta kepada seluruh masyarakat yang ada di seluruh masyarakat agar sabar menanti Sekertaris Daerah yang tega digodong oleh pemerintah pusat jangan ada lagi isu-isu yang mengatakan bahwa akan ada lagi usulan diajukan oleh pelaksana Gubernur Sekertaris Daerah Provinsi Sumatera Utara.
Menurut ketua LSM MITRA SWARA PRANANTA usulan untuk nama calon Sekertaris Daerah Provsu adalah unsur pemerintah yang artinya logika tidak ada usulan yang akan disampaikan pemerintah pusat diluar ketiga nama calon sekertaris daerah yang tengah diproses oleh pemerintah pusat karena Sumatera Utara bukanlah perusahaan milik pribadi ataupun milik sekelompok orang (PEMRED)

Selasa, 19 April 2011

PELNI TUMPUR AKIBAT CALO BEKERJA SAMA DENGAN KEPALA CABANG


 
                             Direktur Utama PT PELNI Jussabella Sahea
Pelabuhan Belawan/Sang Merah Putih
Puluhan Calo tiket berkeliaran di dermaga Belawan mencari mangsa tanpa takut di tangkap aparat pelabuhan Belawan disaat kapal berangkat pada hari selasa para calo menaikkan penumpang tidak memakai tiket dan para petugas pelni yang ada di belawan tutup mata melihat para calo menaikkan penumpang tanpa tiket kapal.Nampaknya ada kerjasama terselubung antara kepala pelni cabang Belawan dengan pengusaha bermata sipit dengan menurunkan para calo untuk memperkaya diri dan menumpurkan BUMN tersebut hasi pantawan reporter Sang Merah Putih Online  

Disaat reporter Sang Merah Putih Online hendak melakukan  konfirmasi kepada salah satu petugas Pelni yang ada di lapangan,petugas Pelni menjawab terlalu kasar kepada wartawan Sang Merah Putih dan mengeluarkan kata “Anggap saja semuanya ini kapal milik kita.Yang tumpurkan Pelni bukan saya ” jadi di minta kepada 

Dirut Pelni untuk mengambil tindakan kepada Kepala Cabang Pelni di Belawan,yang ada dilapangan dan 
perlu mempertanyakan kepada petugas lapangan apa hubungan calo dengan petugas Pelni ada kerja sama resmi untuk memperkaya diri Kepala Cabang Belawan  di lapangan.Karena sudah merugikan pihak Pelni.Biar Pelni tumpur dan meminta bantuan modal dari pemerintah(Red)

Senin, 18 April 2011

Pungut Dana Kartu Sehat Dan Raskin Warga Sei Mati Minta Keplink "Diganti"



Belawan, Sang Merah Putih
            Harapan Drs. Rahudman Harahap agar birokrasi Pemkot Medan dapat  melayani masyarakat dengan baik sepertinya belum terwujud. Masih banyak jajarannya yang memanfaatkan program Pemkot Medan untuk kepentingan pribadi, sehingga terjadi keresahan ditengah kepentingan masyarakat.  
            Seperti di komplek Gabion Lingkungan IX Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Labuhan. Puluhan perwakilan masyarakat yang menetap di sana minta kepala lingkungan mereka (Syamsuddin Marpaung-red) segera diganti.
            Permintaan masyarakat ini cukup beralasan, pasalnya kepala lingkungan IX Kelurahan Sei Mati ini melakukan pengutipan sejumlah rupiah (Rp. 50 – 100 ribu-red) kepada masyarakat penerima Kartu Sehat, bahkan pengambilan kartu untuk jatah raskin juga dipungut biaya.
            Keresahan masyarakat akibat ulah kepala lingkungan yang sudah berulang kali terjadi itu dilaporkan tertulis ke Lurah Sei Mati, namun sampai saat ini Syamsuddin Marpaung masih tetap menjadi kepala lingkungan IX.
            Dalam surat yang menyatakan keberatan atas kinerja kepala lingkungan IX tertanggal 29 Maret 2011 yang ditujukan ke Lurah Sei Mati dijelaskan, kepala lingkungan IX Syamsuddin Marpaung menahan sebahagian kartu sehat warga. Sementara sebahagian lagi sudah diberikan dengan pungutan Rp. 50 – 100 ribu tiap kartu sehat. Selain itu, kepala lingkungan IX juga melakukan pengutipan dana untuk kartu pengambilan jatah raskin.
            Kinerja kepala lingkungan yang satu ini membuat resah masyarakat di sana. Karena butuh, masyarakatpun serahkan biaya yang dibebankan kepala lingkungan itu. Namun mereka berharap agar Lurah Sei Mati segera mengganti kepala lingkungan tersebut.
            Lurah Sei Mati Kecamatan Medan Labuhan Hairul Amri ketika di konfirmasi Sang Merah Putih melalui telepon selularnya, Selasa (5/4) berjanji menindaklanjuti pengaduan masyarakat. “Pengaduan masyarakat tetap kita tindaklanjuti, namun harus berdasarkan fakta dan bukti. Jika memang sudah tidak dapat melayani masyarakat dengan baik, secepatnya kita ambil tindakan sesuai peraturan yang ada”.
Amri juga mengaku perintahkan anggotanya untuk berikan kartu sehat langsung ke masyarakat. “Kita juga sudah perintahkan anggota untuk serahkan kartu sehat yang belum diberikan kepala lingkungan itu kepada masyarakat. Saya harapkan agar masyarakat yang dikutip biaya segera membuat surat pernyataan dan diserahkan kepada saya”. Tegas Amri.
Sementara Humas Pemkot Medan Khairul Johari S.sos ketika dihubungi Sang Merah Putih, Selasa (5/4) membenarkan adanya pengaduan masyarakat lingkungan IX Kelurahan Sei Mati. “Benar. Pengaduan masyarakat lingkungan IX itu sudah kita teruskan ke Aspen yang nantinya akan menindaklanjuti keluhan masyarakat tersebut. Jika keluhan masyarakat itu benar, maka kita minta Lurah untuk mengambil tindakan. Kepala lingkungan harus bisa bekerjasama dengan Lurah yang benar-benar memikirkan kepentingan masyarakatnya”. Kata Johari. [09].     

Rabu, 06 April 2011

Kebakaran Hutan Di Pusuh Buhit Meluas

Samosir (Sang)                                                                   Hutan di kawasan Gunung Pusuk Buhit, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir kembali terbakar pada Senin (4/4), di Aek Rangat, Siogung-ogung. Tercatat pada tahun 2008 dan 2009 juga terbakar.

Kepulan asap mulai terlihat sejak tengah hari, hingga Se­lasa (5/4) sore. Api dikabarkan mulai mengarah ke hutan di atas pemukiman penduduk Desa Huta Ginjang, Kecamatan Si­anjur Mula-mula.

Penduduk yang bermukim di sekitar Pangururan merasa­kan dampak nyata dari keba­karan hutan tersebut. Asap, de­bu maupun daun yang ha­ngus akibat kebakaran terbawa angin telah masuk ke rumah-rumah penduduk.

“Udara yang biasanya sejuk telah berganti menjadi kepulan asap. Bekas daun-daun terba­kar juga telah sampai ke ru­mah. Semoga kebakaran hutan ini segera padam. Karena sangat mengganggu aktivitas dan kesehatan juga terganggu,” ujar Naibaho, salahseorang war­ga Siogung-ogung kepada Jurnal Medan.

Sementara Kadis Kehuta­nan Ir YC Hutauruk mengata­kan, upaya pemadaman api sudah dilakukan secara manual karena lokasi kebakaran ada di daerah yang terjal dan cu­ram. Namun karena kondisi cua­ca dan lokasi api belum bi­sa dipadamkan.

“Staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan sedang berusaha me­madamkan kobaran api. Dan saat ini ada yang berjaga di be­berapa titik seperti di Aek Ra­ngat dan Sigulatti untuk ber­jaga-jaga kebakaran tidak menjalar. Kita takut api akan menjalar ke daerah Sigulatti yang dekat dengan pemukiman penduduk,” jelas YC Hutauruk yang juga belum bisa memastikan luasan hutan yang terbakar.

Lebih lanjut YC Hutauruk menjelaskan, motif maupun pelaku pembakaran belum bisa dipastikan. Hanya diduga ulah para penggembala ternak yang membakar ilalang, dan dahan-dahan kering.

Sementara Camat Sianjur Mu­la-mula Mangihut Situme­ang SSos mengatakan, sejak terjadi kebakaran pihaknya dan Linmas telah berjaga-jaga di Desa Huta Ginjang untuk me­ngantisipasi meluasnya ko­baran api serta membantu pihak Dinas Kehu­ta­nan dan Per­kebunan dalam pemadam api.

Medan Tenggelam, Tinggal Tunggu Waktu



Medan Tenggelam, Tinggal Tunggu Waktu
MEDAN-(Sang)
Jangan bermain-main dengan keseimbangan alam kalau tidak mau menanggung akibat fatal. Terkait hal itu, tiga pemerhati lingkungan dan tata kota menantang Pemerintah Kota (Pemko) Medan untuk bertindak bijak, demi keselamatan warga kota.
Pemerhati lingkungan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Jaya Arjuna, menantang Pemko membongkar bangunan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) yang mengakibatkan penyempitan sungai. Cukup mengikuti peraturan yang menentukan berapa jarak bangunan yang boleh berdiri di dekat sungai.
“Kalau sudah menyalahi aturan, bongkarlah. Jangan diam saja. Kalau Pemko tidak berani, tinggal menunggu waktu bagi Medan untuk tenggelam,” tegas Jaya Arjuna kepada Sumut Pos, Selasa (5/4).
Pemerhati Tata Kota Medan Abdul Rahim Siregar menjelaskan, penurunan kemampuan Sungai Babura dan Sungai Deli menampung debit air akibat penyempitan sungai, tidak terlepas dari banyaknya bangunan di DAS yang menyalahi aturan. Pendirian bangunan itu berkorelasi dengan pengurusan izin analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), penerbitan surat izin pendirian bangunan (IMB) yang dikeluarkan Pemko Medan terkesan begitu mudah.
“Jangan karena uang saja. Pikirkan juga dampak yang ditimbulkan. Bayangkan saja, dalam beberapa bulan ini saja Medan sudah dua kali dilanda banjir,” tegasnya.
Abdul Rahim mendukung penertiban bangunan di DAS dan menuntut ketegasan Pemko Medan dalam bersikap. “Kenapa tidak? Harus ada langkah-langkah tegas, jangan hanya cakap-cakap. Patut juga digarisbawahi, banjir ini baru aba-aba dari yang menciptakan alam ini,” tandasnya lagi.
Mantan anggota DPRD Medan periode lalu ini tidak setuju bila permasalahan ini hanya ditimpakan pada developer, pemilik atau pengelola gedung di bantaran sungai. “Pemko Medanlah pihak yang paling bertanggung jawab,” ungkapnya.
Selain bangunan di DAS, banjir juga disebabkan ketidakmampuan Medan menyiapkan drainase yang memadai. Sejatinya, ada dua sistem drainase yakni sistem drainase primer (sungai) dan sistem drainase sekunder yakni parit dan selokan. “ Medan belum siap untuk itu. Ke depan, harus ada kesinambungan perencanaan dan pemetaan kota yang lebih baik. Dalam hal ini, anggota dewannya juga harus proaktif,” tukas Abdul Rahim.
Arsitek muda Medan Sulaiman Sembiring menuturkan, genangan air akibat banjir secara langsung mengurangi kekuatan struktur bangunan yang tergenang. Dampaknya antara lain, terjadi penurunan pondasi dan penyerapan air dinding bangunan semakin menurun. “Kalau bangunannya pakai pondasi pancang, tidak terlalu bermasalah. Tapi kalau pakai pondasi tapak, ini lah yang riskan,” kata alumni Jurusan Artsitektur Institut Teknologi Medan (ITM) Medan.
Dari sisi kekuatan, pondasi pancang lebih tangguh dibandingkan pondasi tapak. Sebab, pondasi pancang biasanya terlebih dulu dilakukan pemasangan paku bumi berdiameter kecil sekitar 10 cm-20 cm. Kalau untuk jembatan paku buminya berukuran 40 cm sampai 50 cm.
Khusus untuk bangunan di DAS, arsitek Jembatan Sudirman Medan ini memaparkan, berdirinya bangunan di DAS secara langsung membuat bibir sungai menyempit. Namun, keberadaan bangunan di DAS itulah yang rawan. Pasalnya, bangunan berdiri di lahan dengan struktur tanah yang relatif tidak terlalu kuat jika dibandingkan tanah yang berada di dataran biasa.
“Keberadaan bangunan di DAS itu membuat beban bagi sungai. Karena membuat resapan air baik pada sungai dan tanah di sekitaran sungai itu menurun karena beban bangunan yang ada. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah rancangan aturan tata kota yang lebih riil lagi, agar bisa membatasi bahkan melarang pendirian bangunan-bangunan di sepanjang DAS. Meskipun memang ada aturan yang membolehkan pendirian bangunan di dekat sungai dengan jarak antara 10 meter sampai 15 meter,” tuturnya.
Terkait ambruknya bangunan Akademi Kebidanan (Akbid) Senior di Padang Bulan, selain dikarenakan rendaman air, mungkin bangunan tersebut hanya menggunakan pondasi tapak. “Terlalu banyaknya air yang menggenang akan mengurangi daya resap dinding. Secara otomatis struktur bangunan juga akan berubah. Ditambah lagi, genangan air itu juga berdampak pada kekuatan tanah yang menjadi tempat berdirinya bangunan itu. Itu selain dari sisi pondasinya,” bebernya.
Pirngadi Gratiskan Biaya Pasien Rujukan
Ada kabar baik bagi warga Medan yang menderita sakit akibat banjir besar Jumat (1/4) lalu. Direktur RSUD dr Pirngadi Medan Dewi F Syahnan SpTHT menyebutkan, rumah sakit tersebut menggratiskan perawatan pasien rujukan korban banjir. “Ini kita lakukan karena masalah ini merupakan bencana. Dalam undang-undang sudah ditegaskan, korban bencana gratis berobat. Ini juga sudah saya instruksikan di petugas UGD agar merawat gratis korban banjir yang masuk. Tapi sejauh ini belum ada pasien korban banjir yang masuk,” katanya.
Sementara itu, 1.818 warga Medan terserang berbagai penyakit pasca banjir besar Jumat (1/4) lalu. Dari jumlah tersebut, penderita infeksi saluran pernafasan atas (ispa) mencapai 50 hingga 60 persen. Disusul penyakit batuk yang disebabkan masuk angin, hipertensi, gagal-gatal dan infeksi kulit.
Kepala Dinas Kota Medan Edwin Effendi melalui Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan, Rumondang, di ruang kerjanya menyebutkan warga yang terserang penyakit tersebut berdasarkan jumlah warga yang berobat di 52 posko kesehatan yang tersebar di 12 kecamatan.
Kecamatan Medan Maimun menjadi daerah yang warganya paling banyak mengeluh terserang penyakit dengan pasien 235 orang. Disusul Medan Johor dengan 218 pasien dengan penyakit demam, menceret, Ispa, luka dan gatal-gatal serta gastrinis. Kemudian dihari keempat pasca banjir sebanyak 67 warga lainnya juga mengeluhkan penyakit yang sama.
Wilayah Desa Lalang Medan Sunggal juga terdapat 68 warga yang mengeluh sakit pasca banjir. Sedangkan di Kecamatan Medan Labuhan tercacat 166 warga mengeluhkan pening, demam dan Ispa.
Kepala Dinas KesehatanSumut, Candra Syafei SPOG, menyebutkan pihaknya sudah menggerakan sumber daya yang ada di Regional Medan untuk membantu Dinkes Kota Medan dan kabupaten/kota lain yangg terkena banjir termasuk pendirian beberapa posko kesehatan dan dokter. Selain itu, di Kecamatan Medan Polonia terdapat empat posko Kesehatan, Medan Maimun ada 2 posko keseharan serta Medan Labuhan (Martubung) dibuka satu.
Kerugian Infrastruktur Rp50 M
Banjir yang melanda 14 kecamatan Kota Medan menimbulkan kerugian infrastruktur Rp50 miliar. Kerusakan itu berada di 100 titik lebih kerusakan jalan dan drainase. Demikian disampaikan Kepala Dinas Bina Marga Kota Medan, Gunawan Surya Lubis usai menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Medan di kantornya, kemarin.
Kerusakan itu meliputi masalah jalan, drainase dan dua jembatan Aloha di Medan Labuhan dan jembatan gantung di Kelurahan Sari Rejo, Medan Polonia.
Persoalan ini secara perlahan akan dituntaskan mulai dengan meningkatkan pelaksanaan patching menggunakan aspal mixing plan (AMP). Selanjutnya, dilaksanakan pengaspalannya oleh tenaga out sourching Dinas Bina Marga sendiri. “Setiap harinya lima armada kami dan para petugas kami melakukan patching di Kota Medan, tapi semuanya belum bisa mewakilinya. Karena jalan di Kota Medan sangat panjang mencapai 3 ribu Km,” sebutnya.

Puluhan Siswa SD Ikal Keracunan

Onya TV (Medan)
Puluhan siswa SD Yayasan Pendidikan Keluarga Dolok (Ikal), Jalan Jongkong, Medan Helvetia, keracunan setelah merayakan ulang tahun seorang teman mereka di kelasnya kemarin.

Sedikitnya 13 siswa harus dirawat inap di RSU Sari Mutiara, Jalan Kapten Muslim, Medan. Dua puluh lima siswa lainnya hanya menjalani rawat jalan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh SINDO, sekitar pukul 10.00 WIB kemarin,para siswa kelas V merayakan ulang tahun siswa bernama Visilia Lorenz, 11. Pada acara itu mereka memakan kue tar pemberian Visilia.Tak lama setelah mengonsumsi kue itu, para siswa merasakan pusing mual dan muntah-muntah.

Visilia yang juga dirawat mengatakan bahwa kue itu dibeli seharga Rp75.000 dari Choco Bakery, tepat di depan RSU Sari Mutiara,Senin (4/4) sore. ”Kuenya memang terasa asam, saya kira itu rasa stroberinya, jadi terus saya makan. Tapi, nggak lama perutnya mual, kepalanya pusing dan akhirnya saya muntah. Sekarang, sudah lumayan, nggak begitu sakit lagi,hanya tinggal lemasnya,”kata Visilia.

Siswi lainnya, Fahrunnisa Zulaika Nst, mengaku merasakan hal sama.Perutnya terasa perih seperti dililit-lilit,mual, dan kepalanya pusing. Tapi, setelah diberi obat,kondisinya membaik. ”Pertama makannya cuma sedikit, tapi karena (kuenya) enak ya dimakan sampai habis. Kalau rasa kuenya enak, tapi krimnya nggak enak. Setelah makan, perut mual, tapi sekarang sudah nggak,” ujarnya didampingi ibunya,Nurani,39, warga jalan Kapten Sumarsono, Medan Barat.

Kepala Sekolah SD Yayasan Perguruan Ikal M Isa mengatakan, para siswa mual dan muntah saat jam belajar sekitar pukul 10.30 WIB. Dari seluruh siswa di kelas V yang jumlahnya 39 orang, hanya seorang siswa yang tidak ikut memakan kue tar itu,karena sudah kenyang. Semua siswa yang memakan kue tar itu merasakan mual dan muntah-muntah.Mengetahui kejadian ini, M Isa dan beberapa guru berinisiatif membawa para siswa ke RS terdekat, yakni RSU Sari Mutiara.

”Tadi kami sempat panik, karena tidak menyangka setelah makan kue kok mual dan pusing-pusing. Lalu, kami berinisiatif membawa mereka ke RS. Setelah diberi cairan dan dipasang infus, anak-anak langsung muntah, sebab biasanya pemberian cairan supaya muntah,”katanya. Ke depan, kata Isa, mereka akan lebih waspada mengawasi siswa mengonsumsi makanan saat berada di lingkungan sekolah.

Dia menyebutkan, 13 di antara 38 siswa yang keracunan harus menjalani rawat inap. Sementara itu, 25 siswa hanya diobservasi rawat jalan.Ke-13 siswa yang harus menjalani rawat inap yakni Dhika, Fuad Hamazier, Landahur, Irfan Fadhil, Rafli, Fahrumsa, Siluy Ananda, M Adshal, M Alfa, Nurul, Namira dan Diaulihaq, serta Visilia Lorenzo. ”Atas peristiwa yang dialami siswa kami, pihak penjual bolu berlapis moka, yaitu toko Choco Bakery, sudah bertanggung jawab.

Untuk 25 siswa sudah pulang, hanya rawat jalan. Sampel bolu dan muntahan siswa sudah diambil pihak Dinas Kesehatan untuk diuji di laboratorium,” katanya. Pemilik toko roti Choco Bakery, Sulaiman, yang ditemui di RSU Sari Mutiara menegaskan, pihaknya akan bertanggung jawab atas kejadian tersebut,termasuk membiayai perobatan siswa. Namun, dia mengklaim kue buatan tokonya aman untuk kesehatan.

Sebab,makanan itu dibuat dari bahan-bahan dasar kue, seperti telur, tepung, mentega, dan bahan lainnya tanpa bahan pengawet. Selain itu, kue buatan tokonya sudah melalui Standar Nasional Indonesia (SNI), berlabel halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). ”Soal keracunannya kenapa, saya tidak tahu.Tidak ada bahan pewarna dan pengawet. Kasus ini juga baru sekali terjadi setelah toko kami berdiri lima tahun,”tandasnya. Direktur Utama RSU Sari Mutiara dr Tuahman menyebutkan, kue yang dijadikan sampel sudah dibawa Dinas Kesehatan Medan.

Mengenai kondisi para siswa, kata dia, semua sudah membaik setelah diberi norit, infus, dan sebagian diberi susu. ”Sudah membaik karena sudah kami beri norit. Biasanya tidak lama, hanya dua sampai tiga hari kondisinya sudah pulih,”ujarnya. Sementara itu,Kepala Balai Besar Pengawas Obad dan Makanan (BBPOM) Sumut Agus Prabowo sempat menyatakan mereka belum mendapatkan sisa makanan yang dikonsumsi siswa. Namun, ketika ditanya kembali dirinya membenarkan telahmengambilsedikitsampel. ”Kami belum tahu apakah yang sedikit ini bisa diperiksa atau tidak.Kemungkinan besok (hari ini) akan kami          

Selasa, 05 April 2011

Bukti Korupsi Rahutman Harahap terus dikumpulkan Kejatisu

MEDAN –  (Sang Merah Putih Online)                                                                                                                                      
Kejatisu kembali menemukan bukti yang memperkuat keterlibatan Wali Kota Medan Rahudman Harahap dalam kasus dugaan korupsi penggunaan anggaran 2005 senilai Rp13,8 miliar.

Saat itu Rahudman menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Tapanuli Selatan (Tapsel). ”Berdasarkan pemeriksaan yang kami lakukan terhadap pihak Bank Sumut Padangsidimpuan, memang ditemukan kejanggalan aliran dana,”ujar Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sumut Erbindo Saragih di kantornya,kemarin. Menurut dia, ada sejumlah item penggunaan dana yang mengalir itu terindikasi menyimpang dari aturan hukum. Namun,dia enggan membeberkannya karena masuk pada teknis penyidikan.

”Nanti akan kita buka di persidangan.Sejauh ini penyidikan masih jalan terus, hanya untuk pemeriksaan terhadap tersangka Rahudman Harahap masih menunggu izin dari Presiden,”katanya. Hal yang sama juga berlaku untuk kasus dugaan korupsi di pos anggaran tunjangan aparatur pemerintah desa (TPAPD) Tapsel 2005.Berdasarkan keterangan dan pengakuan dari beberapa camat dan kepala desa di Tapsel, bahwa aliran dana TPAPD itu tidak sampai ke desa.                                     


”Indikasi yang kami temukan saat melakukan pemeriksaan di Tapsel terungkap sejumlah dananya tidak sampai ke kecamatan dan desa,”paparnya. Bahkan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap Kepala Bagian Keuangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapsel, terungkap bahwa kas pemkab masih belum tertanggulangi. ”Masih tekor itu kas Tapsel. Ini kan menguatkan adanya indikasi korupsi,” imbuh Erbindo.

Sebelumnya,Kejati Sumut sudah mengirimkan surat permohonan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk memberikan izin pemeriksaan Wali Kota Medan Rahudman Harahap.Kejati juga melampirkan lengkap dengan disertai hasil audit BPKP, namun hingga kini surat tersebut tak kunjung diterbitkan oleh Presiden SBY. ”Bagi saya, tugas saya menyidik sudah cukup. Sekarang tinggal bagaimana proses selanjutnya dari Kejagung dan Presiden.Kalau bisa cepat keluar, maka langsung saya perintahkan untuk diperiksa,” ucap Kepala Kejati (Kajati) Sumut Sution Usman Adji. (Ojak)

                             

Polisi periksa anggota DPRD Simalungun

Sang Merah Putih Online(Simalungun)
Polisi memeriksa anggota DPRD Simalungun dari Partai Hanura Aspan Nainggolan,  Sabtu(2/4). Tujuannya memberikan keterangan  terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan  ZS, Ketua DPD Partai Hanura Sumut terhadap Osin alias Ade yang masih berumur 19 tahun.

Demikian disampaikan penasehat hukum Ade, Sudiarto Tampubolon, di Siantar, Senin (4/4). Menurutnya, anggota DPRD Simalungun itu merupakansaksi kunci dari kasus pelecehan seksual yang menimpa Ade. Pasalnya, dia adalah saksi mata dari tindakan pelecehan seksual yang dilakukan ZS di Karaoke Laponta, Siantar Hotel, 26 Februari lalu.

Sudiarto berharap Kapolresta segera melimpahkan kasus pelecehan tersebut ke kejaksaan. "Supaya masyarakat dan anggota-anggota dewan dapat menilai buah perbuatan ZS yang juga merupakan anggota DPRD Sumut," ujarnya. Ia berharap Badan Kehormatan Dewan Sumut agar menindak ZS sesuai aturan yang berlaku.

Kejadian pelecehan seksual yang dilakukan ZS terhadap Ade alias Osin bermula saat ZS sedang karaoke di Karaoke Laponta, Siantar Hotel. Saat itu ZS meminta kepada Manajer Karaoke Laponta, Juwita agar ia dan rombongannya dari Partai Hanura ditemani karaoke  10 wanita. Satu di antaranya adalah Ade yang belakangan diketahui juga kader Hanura.(Ewin)

Gedung Akib Senior rubuh para mahasiswi diungsikan secara diam-diam

Gedung itu Nyaris Merenggut Buah Hati KamiMedan (Sang maerah putih online)
Ambruknya gedung Akademi Kebidanan Senior Medan, Minggu (3/4) para mahasisiwa. Selain bingung akan tidur dimana, beberapa mahasiswi Akbid Senior Medan harus kehilangan tidak sedikit barang.
Meskipun matahari sudah berada di atas kepala, Senin (4/4) lokasi gedung Akbid Senior Medan yang juga kampus Universitas Generasi Medan di Gang Pelita tetap ramai. Baik dari anggota masyarakat, para siswi, hingga orangtua dan keluarga siswi. Kabar ambruknya gedung Akbid Senior bahkan membawa mereka dari daerah terjauh di Sumatera Utara ini.
Sebut saja Pak Tampubolon (43) yang tiba di Kota Medan pukul 09.00 WIB. Sembari duduk di kursi aluminium, dirinya menatap runtuhan bangunan di depannya. Rokok di sela-sela jarinya tak henti diisap, menenangkan pikirannya yang bergejolak mengenai peristiwa mengejutkan itu. “Untunglah anak saya sedang dinas dan baru saja pulang. Jadi dia juga tidak tahu kalau gedungnya ini roboh. Semoga saja isu adanya korban tertimpa itu tidak betul ya,” .
Tak berapa lama, sang putri (sebut saja Susi, Red) yang siswi tingkat II Akbid Senior Medan
itu pun datang. Masih terlihat seragam dinas di balik sweater garis-garis coklat yang dikenakannya. Nada kesal terasa dari jawaban kepada ayahnya. “Semua barang-barang aku gak ada lagi katanya terbawa Sei Babura. Padahal (alat mengukur) tensi aku pun masih di situ semua. Sementara ini kami pun mau diungsikan ke Marindal,” ucap siswi yang tidak ingin disebut namanya.
Kamarnya yang berada di lokasi gedung ambruk tepatnya Ruang Nanas membuat dirinya dan siswi lain dilarang memasuki gedung di sisi kanan. Hal itu membuat dirinya semakin bingung dengan keberadaan barang-barangnya. Apalagi satu minggu ini dirinya masih menjalani dinas di rumah sakit yang sudah ditentukan.
Susi tidak sendiri, Rina (juga bukan nama sebenarnya, Red) juga terlihat bingung dengan kondisi gedung yang menjadi tempat tinggalnya. Karena kondisi gedung yang kini miring, tidak seorang pun diizinkan mendekati lokasi gedung yang ambruk. Apalagi naik ke atas untuk mengambil barang-barang yang ada. Tak pelak, keduanya dan beberapa siswi yang juga menempati kamar di gedung yang runtuh hanya bisa memandangi bangunan yang menimpa kamarnya. Dinding gedung Akbdi Senior tepatnya di sisi kanan, bangunan yang menyatu dengan dapur yang runtuh banyak ditemui retakan. Bahkan bangunan tadi seolah terpisah dengan bangunan di sebelahnya. Terlihat celah di dinding gedung yang hingga 10 centimeter. Sangat menyesakkan keluarga siswi mengingat uang pembangunan yang harus mereka bayar di tahun pertama.
Seperti yang disampaikan Siahaan (41), warga Marindal Medan yang putrinya siswi tingkat II di Akbid Senior Medan tersebut. Sebagai masyarakat awam dirinya bahkan terkejut melihat konstruksi bangunan yang ambruk. Padahal uang sebesar Rp12 juta harus dibayar sebagai uang pembangunan di awal putrinya menjalani pendidikan.
“Masak untuk bangunan empat tingkat seperti ini hanya menggunakan besi sekecil itu. Besi yang gitu cocoknya juga untuk bangunan rumah satu lantai. Padahal pertama masuk dulu kita diminta uang pembangunan Rp12 juta. Pardede (sekolah di yayasan milik keluarga Pardede) saja menggunakan besi sebesar batang pohon itu. Dan di situ tidak ada dikutip uang pembangunan,” kesalnya.
Dirinya pun memaparkan bagaimana kutipan-kutipan yang dikenakan kepada putri dan siswi Akbid Senior Medan lainnya. Selain uang pembangunan, uang kamar, uang diktat, uang buku, hingga uang praktek di rumah sakit-rumah sakit. “Kalau ditotal sampai tamat habis juga Rp100 juta-an,” tambahnya.
Apa yang dirasakan Siahaan tidak lah berlebihan. Sebagai orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk masa depan sang putri. Namun siang itu, kenyataan yang ditemui sangat mengejutkan dirinya. Bagaimana jumlah uang yang sudah dia keluarkan justru tidak menjamin keselamatan buah hatinya. Tak heran masyarakat pun turut menyampaikan rasa geram apalagi mereka merupakan saksi pembangunan gedung yang bermasalah itu.
Sebut saja Sembiring (bukan nama sebenarnya, Red) yang merupakan penduduk di Gang Pelita tersebut. Dengan tegas dirinya menuding pihak yayasan sudah mengabaikan nyawa siswinya untuk keuntungan semata. Seperti tahapan pembangunan gedung yang dilakukan secara bertahap tadi. “Ini kan dulu dibangun 2004 dengan dua lantai. Kalau gedung yang ambruk itu merupakan bangunan tahap kedua atau ditempel lah. Tapi karena siswi terus bertambah dibangun dua lantai lagi ke atas. Tapi pondasi tetap yang untuk bangunan dua lantai,” bebernya.
Lebih parahnya lagi lanjutnya, bangunan di sisi kanan gedung bersebelahan dengan aliran Sungai Babura yang beberapa hari lalu meluap hingga membenam dapur Akbid Senior tersebut. Akibad pengikisan air tadi kini pondasi gedung itu terlihat langsung ke dalam sungai sekitar satu meter dasar bangunan bahkan berada di atas sungai.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, pukul 21.00 WIB gedung Akbid Senior Medan dan Universitas Generasi Muda Medan ambruk. Bangunan yang ambruk adalah gedung di sisi kanan dimana dapur dan ruang makan berada di bawahnya. Bangunan ini runtuh dari lantai empat hingga lantai dasar. Bangunan yang ambruk lainnya adalah bangunan di sudut kanan yang hanya ambruk hingga lantai dua.
Diberitakan, yang diberitakan ‘menghilang’, oleh beberapa orang disana 9 mahasiswa yang menghilang, disebut tertimbun bangunan. Sampai saat ini, berita menghilangnya 9 mahasiswa itu masih simpang siur, sementara dugaan tertimbun, akhirnya terpatahkan.
Hingga Senin (4/4) siang, evakuasi belum dilakukan. Pihak yayasan menegaskan, tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut. Senin (4/4) dini hari satu mobil pick up dipenuhi dengan travel bag yang diduga milik para siswi menuju ke rumah mewah di Jalan Bunga Mawar No 66 Medan. Di situ juga para orangtua siswi yang belum bertemu Minggu (3/4) dikumpulkan dengan cara evakuasi diam-diam. (*)

Jumat, 01 April 2011

AKIBAT ISU BEGU GANJANG J SINAGA BUNUH WARTAWAN SALAH SATU MEDIA DI SUMATERA UTARA





Marelan-(Sang Merah Putih Online)
Seperti orang tak beragama   penduduk  Maden Baru, Lorong Satahi, Medan Marelan mengamuk bak orang ke setanan  menghancurkan  rumah warga  J. Sinaga karena Ia telah membunuh Torang Panjaitan,pada hari  Kamis (31/3) pukul 23.00.
Ini semua terjadi, amuk massa berawal saat Panjaitan pulang kerja. Sinaga yang masih tetangganya menghampirinya sambil membawa klewang. Tanpa basa-basi, Sinaga menghayunkan klewangnya pada Panjaitan berkali-kali. Panjaitan pun tewas. Kekesalan Sinaga berawal saat Torang yang wartawan salah satu media di Sumut, memberitakan masalah begu ganjang yang dikaitkan dengan J Sinaga.

Mengetahui kejadian itu, warga sekitar mengamuk dan mengobrak-abrik rumah Sinaga. Saat itu, istrinya berada di rumah. Tidak hanya itu, warga mengumpulkan kayu dan membakarnya dekat rumah Sinaga. Bukan hanya itu, Sinaga juga mendapat bogeman dari massa.

Beruntung, polisi yang tiba di lokasi berhasil mengamankan Sinaga dan berupaya menenangkan warga. Di luar dugaan, salah seorang putri Sinaga berusaha lari dari kampung sambil menyiramkan bensin di sepanjang jalan (gang kampung).

Hal itu kembali memicu emosi warga. Upaya pengejaran pun dilakukan. Lagi-lagi, polisi berhasil mengamankan wanita tersebut dan memasukkannya ke mobil. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, wanita itupun diboyong ke komando.  hingga pukul 01.10, suasana di lokasi kejadian masih mencekam. Puluhan warga masih terlihat menyisir jalan memastikan tidak ada lagi keluarga penganiaya Panjaitan di kampung itu.(bin)